Evolusi Bahasa

bagaimana gen membentuk kemampuan kita berbagi simbol

Evolusi Bahasa
I

Pernahkah kita sadar betapa anehnya kegiatan nongkrong di kedai kopi? Kita duduk berhadapan, menggerakkan otot-otot di sekitar mulut, dan mengeluarkan rentetan getaran suara dari tenggorokan. Ajaibnya, getaran di udara itu bisa membuat teman di depan kita tertawa terbahak-bahak, merenung sedih, atau tiba-tiba kesal. Kita sedang memindahkan sebuah pemikiran abstrak dari dalam kepala kita ke kepala orang lain, murni hanya menggunakan gelombang suara. Kemampuan berbahasa adalah sihir paling nyata yang dimiliki manusia. Ia terasa begitu wajar karena kita melakukannya setiap hari. Tapi, dari mana sebenarnya sihir ini berasal? Mengapa hanya spesies kita yang dibekali kemampuan untuk merangkai kata demi kata? Mari kita duduk santai dan membedah misteri ini bersama-sama.

II

Secara historis dan biologis, kita tahu bahwa hewan juga berkomunikasi. Seekor monyet bisa berteriak keras untuk memperingatkan kawanannya bahwa ada macan tutul yang mendekat. Lebah bisa menari untuk memberi tahu letak bunga bernektar. Tapi, komunikasi hewan sangatlah harfiah dan terikat pada momen saat itu juga. Kawanan monyet tidak bisa berkumpul di sore hari setelah bahaya lewat dan bergosip, "Eh, macan tutul yang tadi motif bintiknya agak norak ya?" Kemampuan untuk membicarakan hal yang tidak ada di depan mata ini adalah garis pemisah tegas antara kita dengan spesies lain. Dalam dunia psikologi evolusioner, kemampuan ini disebut displacement. Lewat celah inilah kita bisa membagikan simbol, menyatukan ide, dan menciptakan cerita fiksi. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang selalu mengganggu para ilmuwan. Apakah bahasa hanyalah kebiasaan yang kita pelajari turun-temurun, atau tubuh kita memang sudah "dirakit" dari pabrik biologisnya untuk menjadi seorang pencerita?

III

Mari kita perhatikan anatomi tubuh kita sejenak. Memang benar, kotak suara atau larynx manusia posisinya lebih rendah dibandingkan primata lainnya. Desain fisik ini memungkinkan lidah kita bergerak lebih leluasa untuk merangkai berbagai variasi bunyi yang rumit. Tapi alat musik sehebat apa pun tidak akan pernah berbunyi indah tanpa musisi cerdas yang memainkannya. Otak kitalah sang musisi tersebut. Nah, di sinilah misterinya mulai menebal. Jika bahasa adalah sebuah software atau perangkat lunak super canggih, logikanya pasti ada hardware di dalam biologi kita yang diciptakan khusus untuk menjalankannya. Sesuatu di dalam cetak biru DNA kita pasti berubah secara drastis ribuan tahun yang lalu. Pasti ada satu saklar misterius yang tiba-tiba menyala dalam kegelapan evolusi, yang mengubah leluhur primata kita dari sekadar pendengus, menjadi manusia yang mampu menulis puisi dan merumuskan hukum fisika. Pertanyaannya, saklar apakah itu?

IV

Teka-teki itu akhirnya mulai terkuak. Mari berkenalan dengan FOXP2. Pada awal tahun 1990-an, para peneliti medis menemukan sebuah keluarga besar di London yang separuh anggotanya mengalami kesulitan parah dalam mengartikulasikan kata dan memahami tata bahasa. Setelah analisis genetika yang sangat panjang, para ahli sains menemukan biang keroknya. Ada mutasi mikroskopis pada gen FOXP2 mereka. Sekarang, penting untuk dipahami bahwa sains itu kompleks; gen ini bukanlah "gen bahasa" tunggal yang bekerja sendirian bak sulap. Namun, FOXP2 bertindak sebagai mandor proyek bangunan. Ia mengatur gen-gen lain yang bertanggung jawab atas plastisitas sirkuit otak, terutama yang menghubungkan kendali motorik halus pada rahang dengan area pemrosesan kognitif. Fakta yang paling mencengangkan adalah ini: jika kita membandingkan gen FOXP2 milik manusia modern dengan milik simpanse, letak perbedaannya hanya ada pada dua asam amino. Hanya dua huruf kecil yang berbeda dalam miliaran kode DNA kita. Mutasi kecil pada "saklar" inilah yang memberi otak kita kemampuan memproses sintaksis secara cepat dan membagikan simbol dengan sesama. Tanpa dua perubahan kecil di gen ini, sejarah, peradaban, dan ilmu pengetahuan tidak akan pernah lahir.

V

Pada akhirnya, di balik rumitnya untaian asam amino dan teori biologi molekuler, sains menyampaikan sebuah kenyataan yang sangat puitis. Cetak biru genetika kita berubah secara radikal karena evolusi menyadari satu hal yang tak terbantahkan: kita butuh orang lain untuk bertahan hidup. Kemampuan merangkai tata bahasa dan berbagi simbol bukanlah sekadar alat untuk pamer kecerdasan. Gen kita membentuk jaringan otak sedemikian rupa agar kita bisa saling bekerja sama, merasakan penderitaan sesama lewat cerita, dan mewariskan harapan kepada generasi yang belum lahir. Jadi, saat teman-teman mengobrol santai atau sekadar mengirim pesan singkat hari ini, ingatlah sejenak perjalanan panjang biologi di baliknya. Setiap kalimat yang kita bagi adalah karya agung evolusi jutaan tahun, yang dirancang semata-mata agar kita tidak pernah merasa sendirian di alam semesta ini.